Ruvan yang merasa dalam bahaya, berusaha menghindar dengan melemparkan senjata di punggungnya ke arah bom fragment sehingga meledak. Namun karena ledakan terjadi terlalu dekat, tetap memberikan dampak yang sangat keras ke tubuh Ruvan.
"Kalian akan menerima pembalasan dariku!" Kata Ruvan sambil menunjuk ke arah pasukan Kane yang sudah berkumpul.
Segera, Ruvan, dengan sisa tenaganya, dengan kondisi tubuh terluka, dia melarikan diri ke dalam hutan. Tubuhnya yang penuh luka bergerak dengan cepat, menghilang di balik pepohonan.
"Biarkan dia, kita harus melanjutkan misi kita!" Kata Kane saat melihat prajuritnya hendak mengejar.
Kane sambil berdiri, mengamati arah di mana Ruvan menghilang. “Kita akan bertemu lagi,” gumamnya sebelum kembali ke pasukannya.
"Kita berhasil." Teriak para prajurit Kane gembira.
Kane segera memeriksa kondisi pasukannya. Mereka mengalami kerugian yang tidak sedikit.
"Komandan, kita kehilangan Garin dan Seraphina. " Kata Kael dengan nada sedih saat menyadari dua anggota mereka terbunuh.
"Siapa mereka? Kenapa mereka bisa berubah bermutasi dan menahan senjata laser kita? Mereka mirip metahuman di dunia kita, tapi lebih kuat dan lebih berbahaya." Freya bertanya dengan penasaran. Selama ini, sangat jarang ada benda yang dapat menahan tembakan laser mereka, apalagi tubuh manusia. Namun, penduduk lokal di pulau ini justru dapat memantulkan serangan mereka.
"Ini adalah awal perjalanan kita. Dan dua orang anggota kita sudah gugur menjalankan misi." Kane memulai kata-katanya. "Pulau ini tidak sesederhana kelihatannya. Apapun yang terjadi kedepannya, kita harus waspada dan tidak menganggap remeh lagi. Kita harus fokus dengan misi kita, dan berusaha kembali ke tempat kita secepatnya."
"Siap komandan!" Kata mereka serentak.
Meski Kane mengatakan fokus kepada misi, namun di hatinya terdapat banyak tanda tanya mengenai kemampuan bertarung penduduk lokal yang memiliki strategi pertempuran yang baik, hingga kemampuan berubah wujud menjadi lebih kuat. Kane tidak dapat membayangkan seandainya penduduk lokal memiliki persenjataan yang canggih, Kane merasa tidak akan sanggup melawan mereka.
"Pulau ini sangat berbahaya. Aku harus segera menyelesaikan misi dan kembali." Batinnya.
Pasukan Kane akhirnya berhasil memenangkan pertempuran dengan kehilangan dua prajurit. Setelah memeriksa peralatan dan perlengkapan mereka, Kane memberikan perintah kepada timnya untuk berkumpul dan bersiap melanjutkan perjalanan.
“Kita masih punya tugas,” katanya dengan nada tegas. “Milo masih ada di luar sana. Tidak ada waktu untuk beristirahat. Selain itu kita harus mengejar Lala dan Kakeknya.”
Sementara itu jauh di bagian timur pulau, di tengah perkampungan Yaksa, Lynx yang terbangun dari mimpi buruknya berusaha mengendalikan diri. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi dahinya. Mimpi buruk tentang Leena masih terbayang jelas di benaknya, begitu nyata hingga membuatnya gelisah. Ia duduk, mencoba menenangkan diri, tapi suara lembut Jelita mengalihkan perhatiannya. "Itu hanya mimpi. Kamu pasti terlalu lelah"
Lynx menghela napas. "Aku harus menemui kepala suku Yaksa segera, dan kembali ke barat. Aku harus memastikan kondisi Leena baik-baik saja."
Jelita tidak menjawab, tapi matanya menunjukkan rasa empati. Sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, keributan dari luar menginterupsi percakapan mereka.
“Ada apa di luar?” tanya Lynx tajam, berdiri dengan cepat.
“Ayo kita lihat,” jawab Jelita, melangkah keluar bersama Lynx.
Di halaman, sekelompok penduduk suku berkumpul, suasana kacau dan penuh emosi. Di tengah kerumunan, seorang wanita muda berambut panjang berdiri, wajahnya penuh amarah dan air mata. Ia adalah Ajeng, putri Gahara, sekaligus teman dekat Jelita. Ajeng berteriak-teriak sambil menunjuk kepada kepala suku dan para tetua.
“Kalian semua salah!” serunya dengan suara lantang, membuat semua orang menoleh. “Ayahku tidak bersalah! Dia difitnah! Semua ini pasti rencana seseorang untuk menghancurkan keluarga kami!”
Di sampingnya, ibunya, seorang wanita paruh baya yang wajahnya memancarkan kesedihan mendalam, ikut memohon dengan suara serak. “Suamiku tidak bersalah. Dia selalu setia kepada suku ini. Kumohon, jangan hukum dia seperti ini!”
Namun, kepala suku berdiri dengan tegap di depan kerumunan, wajahnya keras. “Gahara sudah jelas bersalah. Pengkhianatannya telah mengorbankan nyawa banyak warga kita. Dia bekerja sama dengan perampok dan hampir membunuh Jelita. Dan di depan kami, dia sudah mengakui semuanya. Tetua Ayunga dan tetua lainnya yang tertangkap saat itu sudah sangat jelas mendengarkan. Kami tidak membutuhkan bukti lain.”
“Ayahku tidak mungkin melakukan itu!” teriak Ajeng, matanya penuh amarah. “Dia dijebak! Kalian tidak tahu apa-apa tentang kebenaran!”
Saat itu, beberapa istri warga maju ke depan, wajah mereka dipenuhi kemarahan. Salah satu dari mereka menunjuk Ajeng dengan tajam. “Tidak tahu kebenaran, katamu?! Suamiku mati karena perampok akibat ulah ayahmu mengkhianati desa ini!”
Wanita lain menimpali dengan suara penuh dendam. “Suami dan anakku juga mati! Bagaimana kau bisa berdiri di sini dan membela seorang pengkhianat?!”
“Dia harus membayar untuk apa yang telah dilakukan ayahnya!” teriak yang lain.
Kemarahan mereka semakin memuncak, beberapa dari mereka bahkan mencoba menyerang Ajeng dan ibunya. Penjaga dengan cepat menahan mereka, tapi suasana menjadi semakin tegang.
Kepala suku mengangkat tangan, mencoba menenangkan kerumunan. “Cukup! Semua orang kembali ke tempat kalian! Pengadilan akan memutuskan hukuman untuk Gahara dan keluarganya.”
Namun, Ajeng tidak menyerah. Ketika ia melihat Jelita mendekat bersama Lynx, matanya langsung tertuju pada temannya. “Jelita!” panggilnya dengan nada putus asa.
Jelita berhenti, menatap Ajeng dari balik topengnya. Sejak tiba di desa Yaksa, Jelita menggunakan topeng untuk menutupi luka di wajahnya. Dia merasa malu dan tidak berani menunjukkan luka di wajahnya kepada orang lain.
“Kau tahu ayahku tidak bersalah! Kau tahu dia tidak mungkin melakukan itu! Kumohon, Jelita, bantu kami!” Ajeng berjalan mendekat, air mata mengalir di pipinya.“Kita berteman sejak kecil. Kau tahu siapa ayahku sebenarnya. Dia tidak mungkin berkhianat!”
Ibunya juga memohon kepada Jelita. “Kumohon, Jelita. Kau tahu apa yang telah dilakukan keluargaku untuk suku ini. Jangan biarkan fitnah ini menghancurkan kami.”
Jelita tetap diam, hanya memandang Ajeng dengan tatapan sulit dibaca.
“Jelita!” Ajeng mendekat, menggenggam tangan Jelita. “Kumohon... Kau tidak akan membiarkan ini terjadi, kan? Kau tidak sekejam itu...”
Jelita akhirnya angkat bicara, suaranya dingin dan tegas. “Aku hampir mati karena pengkhianatan ayahmu, Ajeng. Kau tahu itu?”
Ajeng tertegun, tidak tahu harus berkata apa.
“Kalau ayahmu tidak bersalah, bagaimana mereka bisa menangkapku saat aku menginap di rumahmu? Bagaimana mereka tahu tentang harta leluhur kita?” lanjut Jelita, suaranya sedikit bergetar. “Aku nyaris kehilangan nyawaku. Kau pikir aku bisa melupakan itu begitu saja?”
Ajeng terisak, jatuh berlutut di depan Jelita. “Aku tidak tahu... Tapi kumohon, Jelita, berikan kami kesempatan!”
Ibunya Ajeng ikut berlutut di depan Jelita."Jelita, selama ini kamu juga menganggapku sebagai ibumu. Kumohon, berikan kami kesempatan untuk sekali ini."
Jelita menarik napas dalam, lalu berbalik kepada kepala suku. “Lakukan apa yang harus dilakukan.”
Kepala suku mengangguk, memberikan perintah kepada para penjaga. “Tangkap mereka semua. Bawa ke penjara. Hukuman mereka akan diputuskan besok pagi.”
Penjaga segera menangkap Ajeng dan ibunya. Ajeng berontak, berteriak-teriak memanggil nama Jelita, tapi tidak ada yang memperhatikannya.
Saat mereka dibawa pergi, Lynx menoleh kepada Jelita. “Kau yakin ini keputusan yang benar?”
Jelita menunduk, suaranya pelan. “Aku tidak punya pilihan. Pengkhianatan tidak bisa dibiarkan, Lynx. Aku tidak bisa membiarkan ini terulang lagi.”
"Keputusanmu sudah tepat. Lemah terhadap musuhmu hanya akan merugikan dirimu sendiri. Perbuatan mereka dapat mencelakakan seluruh suku kalian kelak." Kata Lynx menyemangati Jelita.
"Terima kasih Lynx, aku pasti sudah tidak selamat andaikata tidak bertemu dengan dirimu. Berkatmu, aku dan penduduk Yaksa yang di tangkap berhasil meloloskan diri dan kembali dengan selamat." Kata Jelita dengan tulus.
Lynx mengangguk pelan, meskipun ia tahu keputusan yang sudah di ambil pasti berat bagi Jelita, tapi ini demi kebaikan mereka semua. Kepala suku memandang Lynx sejenak, lalu memberi isyarat kepada penduduk untuk bubar. Namun suasana tegang masih terasa, meninggalkan bayang-bayang dendam dan kepedihan di antara mereka.
